Kamis, 02 Desember 2010

Menu 11 : Berbincang Tentang TRIASE

Triase Adalah : Proses mengatur prioritas pengelolaan korban yang jumlahnya banyak (Musibah Masal)

Musibah massal adalah setiap keadaan dimana jumlah pasien sakit atau cedera melebihi  kemampuan Sistem Gawat darurat lokal, regional atau nasional yang tersedia dalam memberikan perawatan adekuat secara cepat dalam usaha meminimalkan cedera atau kematian. Musibah massal mungkin disebabkan oleh ulah manusia atau alam. Keberhasilan pengelolaan musibah massal memerlukan perencanaan sistem pelayanan gawat darurat lokal, regional dan nasional, pemadam kebakaran, petugas  hukum dan pertahanan sipil. Kesiapan rumah sakit serta kesiapan pelayanan spesialistik juga harus disertakan dalam mempersiapkan perencanaan musibah massal.

Prinsip-Prinsip Triase :
1. Derajat Ancaman Jiwa akibat Cedera (ABCDE Pelayanan Korban Trauma)
Derajat ancaman jiwa akibat suatu cedera ditentukan dengan mempertimbangkan urutan prioritas pda survey primer tiap-tiap penderita dan menerapkan prinsip yang sama pada kelompok-kelompo penderita. Dengan sistem ini, penderita yang terancam jalan napas atau pernapasannya, lebih diprioritaskan daripada penderita yang terganggu sirkulasi atau neurologinya.

2. Beratnya Cedera
Beratnya cedera secara keseluruhan pada seorang penderita mungki bukan hanya berhubungan dengan tiap-tiap cedera, tetapi juga dengan beratnya cedera serta bagaimana respon penderita terhadap cederanya. Sebagai contoh : Fraktur pada suatu tulang mungkin prioritasnya rendah, tetapi bila disertai pendarahan hebat , maka tingkat prioritasnya pada proses triase akan meningkat

3. Kemungkinan Terselamatkan
penderita yang hebat cederanya atau paling terancam jiwanya tidak selalu mendudukki prioritas paling tertinggi pada skenario-skenario penderita yang jumlahnya banyak. Harus dipertimbangkan kemungkinan penderita akan bertahan hidup atau tidak. dalam sistem ini, penderita yang kecil kemungkinannya untuk hidup karena cederanya paling parah, sering dimasukkan ke priorotas rendah, dan ditolong setelah penderita yang dianggap lebih mungkin terselamatkan.
4. Sumber daya, termasuk kemampuan personell dan Peralatan
Penderita yang kebutuhannya melampui kapasitas sumber daya, mendapat prioritas rendah sampai kebutuhan sumber daya tersebut terpenuhi

5. Waktu, Jarak, Lingkungan
Cedera yang dapat dikelolah amat cepat, meskipun beratnya cedera tergolong ringan dan ancamannya terhadap jiwa mungkin mendapat prioritas tinggi karena pendeknya waktuyang diperlukan untuk mengatasi masalah yang telah teridentifikasi. Jarak perjalanan membawapenderita ketempat terapidefenitive dan faktor lingkungan yang lain juga perlu dipertimbangkan saat menentukan prioritas pengelolaan pada skenario-skenario penderita yang jumlahnya banyak.


Pendekatan yang dianjurkan untuk memprioritisasikan tindakan atas korban adalah yang dijumpai pada sistim METTAG. Prioritas tindakan dijelaskan sebagai :

Prioritas Nol (Hitam) : Pasien mati atau cedera fatal yang jelas dan tidak mungkin diresusitasi.

Prioritas Pertama (Merah) : Pasien cedera berat yang memerlukan tindakan dan transport segera (gagal nafas, cedera torako-abdominal, cedera kepala atau maksilo-fasial berat, shok atau perdarahan berat, luka bakar berat).

Prioritas Kedua (Kuning) : Pasien dengan cedera yang dipastikan tidak akan mengalami ancaman jiwa dalam waktu dekat (cedera abdomen tanpa shok, cedera dada tanpa gangguan respirasi, fraktura mayor tanpa shok, cedera kepala atau tulang belakang leher, serta luka bakar ringan).

Prioritas Ketiga (Hijau) : Pasien degan cedera minor yang tidak membutuhkan stabilisasi segera (cedera jaringan lunak, fraktura dan dislokasi ekstremitas, cedera maksilo-fasial tanpa gangguan jalan nafas serta gawat darurat psikologis).

Referensi :
1. http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7326388511232719863&postID=5516157320228441142
2. Note book : Triase. UGM. 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar